PDT Beasiswa AAS, Bukan Sekedar Belajar IELTS

09.03

 

PDT Beasiswa AAS

Gak terasa udah sebulan ikut Pre Departure Training (PDT) Beasiswa AAS Intake 2021. Cepet banget ya, padahal kemarin kayaknya baru mulai. Mungkin karena faktor pembelajaran dilakukan secara online juga, dan sangat enjoy selama ngikutin PDT, jadi tau-tau waktu udah berlalu aja, hehe..

Sebelum ikut PDT Beasiswa AAS, yang kebayang di pikiran adalah belajar soal-soal IELTS non stop bareng guru-guru dari IALF. Kebetulan di tahun 2019, saya sempat ambil les IELTS juga di IALF Kuningan, Jakarta. Kalo dari kualitas pembelajaran, gak perlu diragukan lagi deh karena IALF selalu punya metode-metode yang bagus untuk membantu siswanya dalam mempelajari bahasa Inggris, khususnya IELTS. Dari pengalaman les di IALF dulu, proses pembelajarannya asik, tapi emang bener-bener fokus ke IELTS. Latihan soal on the spot selalu jadi agenda utama, baik untuk Listening, Reading, Writing dan Speaking. Dan setelah latihan, nanti langsung dapet feedback, entah peer-to-peer feedbacks maupun dari gurunya langsung. Kebayang dong 4,5 bulan PDT Beasiswa AAS nantinya juga bakal mirip-mirip kayak gitu. Hati riang banget, asik nih belajar IELTS lagi. Entah kenapa saya selalu ngerasa enjoy saat punya kesempatan belajar bahasa Inggris.

Namun, apa yang saya bayangkan dengan apa yang saya jalani di PDT Beasiswa AAS cukup berbeda. Hari pertama PDT Beasiswa AAS, saya dan teman-teman sekelas bahkan gak sempet perkenalan satu-satu. Saat awal masuk zoom meeting, kita langsung diarahkan ke breakout room, dibagi ke kelompok kecil-kecil (satu kelompok 2 orang), dimana masing-masing orang diminta untuk menceritakan tentang nama orang yang dikagumi, nama buku yang terakhir dibaca, serta tahun yang paling memorable buat kita, dengan masing-masing penjelasan wajib diberi alasannya kenapa. Yup, ini udah semacem langsung praktik latihan Speaking IELTS. Saya sendiri sangat menikmati kelas di hari pertama, karena basicly saya juga antusias ketemu dan ngobrol sama temen baru. Jadi ya asik aja. Saat itu pasangan kelompok saya adalah Ives, awardee asal Jakarta Pusat. Setelah cerita di kelompok kecil, selanjutnya kami kembali ke Main Room dan diminta untuk menceritakan lagi cerita dari pasangan kelompok kami masing-masing.

O iya, saya dan teman sekelas PDT Beasiswa AAS 4,5 months ini total ada 11 orang, sebagian besar dari Pulau Jawa, 2 orang posisi ada di Bali, dan 1 orang dari NTT. Uniknya, karena pengajar IALF ada di Bali, jadi jadwal pembelajaran kami mengikuti Waktu Indonesia Tengah (WITA). Setiap senin-kamis, jadwal masuk 09.00-11.00 WITA, kemudian istirahat 2 jam, masuk lagi 13.00-15.00 WITA. Khusus untuk jumat, jadwalnya lebih pendek, mulai jam 09.00-10.30 WITA, istirahat 30 menit, masuk lagi 11.00-12.30 WITA. Di hari Selasa-Jumat biasanya ada kelas tambahan lagi terkait Cross Cultural, Computer Information dan Information Literacy, masing-masing mulai jam 16.00-17.00 WITA. Lumayan padat juga jadwalnya, meskipun ada jeda istirahat, tapi kadang kayak kerasanya cepet gitu, tau-tau udah jadwal masuk lagi, haha.. 

Pengajar kami di kelas adalah Steve Bolton, beliau berasal dari Inggris dan sudah 30 tahun tinggal di Indonesia. Jadi Steve udah cukup paham juga dengan Bahasa Indonesia maupun budaya Indonesia. Tapi ketika di kelas kami tetap komunikasi menggunakan Bahasa Inggris secara penuh. Cuman kalo ada istilah-istilah di Bahasa Inggris yang agak susah kami pahami, Steve akan membantu menerjemahkannya di Bahasa Indonesia agar kami bisa lebih ngerti. Saya merasa beruntung punya guru seperti Steve, karena orangnya emang pinter banget. Mungkin Steve juga kali ya yang bikin PDT Beasiswa AAS jadi lebih bermakna (ceilah, hahaha), gak sekedar belajar Bahasa Inggris biasa atau fokus latihan soal-soal IELTS aja. Steve orangnya sangat melek teknologi, dia bahkan bikin websitenya sendiri yang bisa berfungsi buat pendukung pembelajaran kami selama PDT Beasiswa AAS. Buat yang tertarik buka website Steve, bisa coba kunjungi www.gurueap.com. Selain itu, Steve juga yang mengenalkan kami berbagai macam aplikasi dan website lainnya untuk mendukung proses pembelajaran seperti https://netspeak.org/, https://skell.sketchengine.eu/, dan http://www.mindmup.com. 

Yup, seperti yang saya bilang tadi, PDT Beasiswa AAS ternyata bukan sekedar belajar IELTS, namun kami benar-benar dipandu dalam beberapa hal, yaitu:

1. Membiasakan diri dengan Bahasa Inggris di semua aspek kegiatan.
Di pembukaan PDT Beasiswa AAS Intake 2021 4.5 months, Vlad (Program Coordinator IALF) memang berpesan bahwa yang lebih utama adalah kami membiasakan diri dengan Bahasa Inggris dan jangan fokus dengan nilai minimal IELTS Band 6.5, tapi kalo bisa lebih dari itu akan jauh lebih bagus, karena artinya kami telah mampu membiasakan diri dengan Bahasa Inggris. Semakin tinggi nilai dan kemampuan Bahasa Inggris kami, semakin mudah juga nantinya kami menjalani dan menyelesaikan kuliah di Australia. 

Oleh sebab itu, di semua aspek pembelajaran, Steve selalu memotivasi kami untuk terus menggunakan Bahasa Inggris. Bahkan kalo ada kesempatan buat ngobrol santai setelah ngerjain tugas, kami juga akan tetap menggunakan Bahasa Inggris. O iya, tugas-tugas yang diberikan selama di kelas selalu tugas kelompok, jadi mau gak mau saat diskusi di breaking room, kami pasti juga diskusi pake Bahasa Inggris. Sedangkan tugas individu berupa latihan writing IELTS Task 1 maupun Task 2 diberikan untuk tugas akhir pekan, yang nantinya akan diberi feedback oleh Steve di minggu selanjutnya.


2. Mengubah pola pikir dalam menyusun artikel ilmiah.
Untuk mendukung proses pembelajaran ini, Steve mengenalkan kepada kami website http://www.mindmup.com Melalui website ini, kita bisa bikin semacem mind map gitu sehingga pola pikir dalam menyusun kalimat dan paragraf sebuah artikel, khususnya artikel ilmiah, bisa lebih terstruktur. Awalnya kami menggunakan metode mind map ini untuk membantu kami menyusun artikel writing IELTS Task 2, namun sebenarnya yang Steve ingin ajarkan ke kami adalah metode mind mapnya. Jika kami sudah terbiasa dengan metode mind map yang ada di http://www.mindmup.com, maka untuk selanjutnya kami bisa cukup membayangkannya aja di dalam pikiran. Jadi kuncinya emang lagi-lagi membiasakan diri. Kalo udah terbiasa kan juga bakal kebiasaan, hehe.. 

Btw, selain buat support pembelajaran writing IELTS, metode mind map ini juga sebenernya bisa membantu kami untuk memahami suatu artikel ilmiah. Setiap hari kami mendapat tugas membaca artikel berita dari sumber mana saja, kemudian keeskokan pagi harinya kami akan diacak untuk menceritakannya kembali di kelas, sesuai alur mind map, mulai contention (ide utama) artikel apa, topik yang sedang diperdebatkan apa beserta alasan pendukungnya apa saja, kemudian rebuttal atau pendapat lain yang bertolak belakang dengan pendapat sebelumnya itu apa. Dari metode ini juga, kami belajar bahwa artikel ilmiah yang baik adalah artikel yang mampu menyajikan two sided arguments, jadi gak cuman one sided argument.


3. Melatih kemampuan critical thinking.
Mungkin di antara yang lain, ini yang paling menantang, apalagi buat orang Indonesia. Karena faktor budaya juga kali ya. Di Indonesia, sejak kecil kita jarang dibiasakan untuk berpikir kritis. Metode pembelajaran di sekolah jaman saya sekolah dulu, masih sebatas menghafal, namun tidak melatih saya untuk berpikir kritis. Selain itu faktor budaya di masyarakat, yang menganggap kalo kritis artinya melawan. Namun saya rasa emang udah saatnya kita mengubah pola pikir kita dan melatih kemampuan critikal thinking kita. Dari hal yang paling sederhana, seperti saat membaca sebuah artikel berita, kita harus mampu membacanya dengan lebih kritis, kenapa berita tersebut diangkat, sumber datanya dari mana, apakah bisa dipastikan akurasi data yang disampaikan, apakah benar hal tersebut memberikan dampak tertentu, dan lain sebagainya. 

Di dalam kelas PDT, kami dibiasakan melatih kemampuan critical thinking dengan cara berdiskusi kelompok, membaca artikel kemudian menelaah artikel tersebut, atau kadang juga berdiskusi terkait soal-soal tertentu di kelas utama. Saya menyadari bahwa peningkatan kemampuan critical thinking ini nantinya akan sangat bermanfaat, gak cuman selama kuliah di Australia, namun juga di kehidupan sehari-hari. Setidaknya dengan lebih kritis, kita akan memaksa otak kita untuk berpikir lebih keras dan lebih komprehensif sehingga kualitas hasil diskusi nantinya bisa lebih optimal.


4. Mempelajari cara menggunakan Bahasa Inggris yang baik dan benar.
Sama kayak belajar Bahasa Indonesia, kita juga harus menggunakannya dengan baik dan benar bukan? Hal ini juga berlaku buat Bahasa Inggris. Di sini saya gak ngomongin grammar, tapi lebih ke penggunaan Bahasa Inggris sesuai kaidah dan budayanya. Wajar sebenernya ketika kita ingin menggunakan Bahasa Inggris namun terkadang kecampur sama mother tounge kita yaitu Bahasa Indonesia. Alhasil banyak yang mempraktekkan Inggris-Indonesia, bukan Inggris-Inggris. Salah satu strategi untuk mengatasi kekurangan ini memang harus lebih banyak membaca artikel Bahasa Inggris (lebih baik artikel Bahasa Inggris asli, bukan terjemahan) dan benar-benar membiasakan dengan penggunaan kalimat Bahasa Inggris. Dan selama di kelas PDT Beasiswa AAS, Steve sering membantu dan mengarahkan kami apabila masih ada beberapa kata atau kalimat yang kurang tepat atau cenderung Inggris-Indonesia.  


5. Latihan diskusi kelompok menggunakan Bahasa Inggris.
Bisa dibilang PDT Beasiswa AAS ini isinya emang diskusi, diskusi, dan diskusi. Bener-bener jauh kan dari bayangan sebelumnya kalo bakal ngerjain soal IELTS doang, hahaha.. Tapi saya bersyukur bisa banyak dapet pelajaran tambahan dari PDT ini, dan punya kesempatan buat ningkatin soft skills pendukung buat kuliah nanti.

Setiap hari jumat, kami dibagi ke beberapa kelompok, kemudian diminta mendiskusikan suatu topik yang sudah kami pilih sebelumnya dari www.theconversation.com. Satu kelompok terdiri dari 4 orang dengan perannya masing-masing. Ada yang berperan sebagai Leader, Contextualizer, Connector, Devil's Advocate, maupun Highlighter. Ini merupakan sesi yang spesial bagi saya, karena dari sini saya belajar banyak tentang gimana caranya diskusi di lingkungan akademik internasional. Bahkan ada suatu ketika, saat saya diskusi, saya sempat mengucapkan "thank you" ke temen yang berperan sebagai Devil's Advocate. Steve yang tau saya bilang "thank you" langsung komentar kalo nanti saat saya diskusi dengan western people, mereka tuh gak bakal bilang "thank you", jadi saya gak perlu bilang "thank you" selama diskusi.  Alright, satu materi budaya berdiskusi udah saya dapet dari Steve :D


You Might Also Like

0 komentar

Followers

Twitter