JST Academic Interview Beasiswa AAS Intake 2021 (Part II)

16.16


Satu bulan persiapan JST Academic Interview Beasiswa AAS menurut saya sudah cukup ideal, gak kurang dan gak lebih. Saya berusaha mempersiapkan semuanya dengan maksimal. Entah nanti lolos hingga tahap akhir atau enggak, buat saya yang penting semangat aja dulu dan terus berusaha. Saya yakin 100 orang yang shortlisted ini tentunya merupakan orang-orang hebat semua, masing-masing punya kelebihan dan nilai plus di mata JST. Jadi, just be yourself and do the best, buat saya yang paling penting. 

Hingga akhirnya saya tiba di hari H pelaksanaan tes interview. Saya dapet jadwal hari Kamis tanggal 10 Desember 2020 pukul 09.30 WIB. Pada hari itu saya sengaja ambil cuti biar bisa lebih fokus. O iya, ketika pertama kali menerima email undangan JST Academic Interview, saya diminta untuk konfirmasi jadwal yang telah diterima, jika oke maka saya harus mengisi form registrasi interview. Setelah itu saya diwajibkan membaca Non-Disclosure Agreement, jadi semacem do's and don'ts selama pelaksanaan online interview.

Ada beberapa hal yang wajib kita persiapkan juga di hari H, yaitu:

1. Laptop atau komputer beserta webcamnya. Saya berusaha memastikan webcam berfungsi dengan baik dan jelas, jadi settingan laptop saya coba cek dan pastikan lagi sehari sebelumnya.

2. Aplikasi Zoom. Interview JST Academic Interview Beasiswa AAS Intake 2021 yang saya ikuti tahun lalu dilaksanakan secara online melalui aplikasi Zoom Meeting. Oleh sebab itu, saya juga pastikan bahwa saya sudah login ke aplikasi Zoom menggunakan email yang saya daftarkan untuk interview dengan tampilan nama lengkap sesuai berkas aplikasi beasiswa saya.

3. Koneksi internet. Saya usahakan untuk tidak mengandalkan satu koneksi saja, namun juga mempersiapkan koneksi cadangan, baik dari handphone, modem atau koneksi wifi lainnya. Jadi kalo sewaktu-waktu di tengah interview koneksi kita ada gangguan, saya bisa segera sigap ganti ke koneksi cadangan.

4. Headphone. Sebenernya ini masuk ke salah satu poin di Non-Disclosure Agreement, bahwa peserta diwajibkan menggunakan headphone atau headset selama online interview. Berhubung saya sudah punya headphone, jadi di H-1 tinggal siapin dan cek aja, apakah bisa berfungsi dengan baik atau enggak. 

5. Dokumen pendukung. Biasanya tim AAI akan menginfokan terlebih dahulu kira-kira dokumen apa saja yang perlu kita persiapkan di hari H dan kemungkinan akan diminta untuk ditunjukkan ke layar sebagai bentuk konfirmasi. 

6. Pakaian rapi. Waktu itu saya memilih untuk mengenakan baju batik, biar lebih resmi dan rapi.

7. Jangan lupa senyum 😊

Sekitar pukul 09.00 WIB saya udah stand by. Salah satu tim AAI juga sudah menginformasikan kepada saya untuk bersiap-siap. Kemudian jam 09.20 WIB saya klik link Zoom Meeting yang telah diinforkan sebelumnya. Super deg-deg an waktu itu, Saya tarik napas, tahan, lalu hempaskan. Berusaha untuk menenangkan pikiran dan rileks. Gak tau kenapa jadwal interview saya waktu itu agak mundur. Saya nunggu sampe sekitar 20 menit sampai akhirnya diapprove masuk ke Zoom Meeting, jadi dari yang super deg-deg an sampe rasa groginya ilang, saking lamanya nunggu, hahaha.. Alhamdulillah banget, saya jadi lebih rileks. 

Ada dua orang interviewer yang menyapa saya saat itu, yang pertama interviewer dari Australia seorang Professor dari University of Tasmania dan yang kedua merupakan interviewer Indonesia, yaitu seorang dosen yang tinggal di Brisbane. 

Di awal interview, saya langsung ditanya tentang peran saya selama di kantor sebagai apa, tugasnya ngapain aja. Kemudian alasan saya memilih Master of Digital Communication di Australia, dan kenapa harus di University of Sydney atau Queensland University of Technology. Beberapa pertanyaan memang sudah saya persiapkan, jadi alhamdulillah saya bisa menjawab dengan lancar. 

Namun ada pertanyaan yang spontan juga sehingga saya juga harus mampu menjawab secara spontan. Contohnya, saat itu interviewer asal Indonesia sepertinya sambil membuka situs berita dan menyimak isu terkini tentang pariwisata Indonesia. Beliau kemudian bertanya kepada saya tentang negara tetangga yang pariwisatanya udah lebih maju dari kita, kemudian ada juga program acara stasiun TV National Geography yang mendatangkan Gordon Ramsey untuk memasak rendang di Padang dengan didampingi oleh William Wongso, ahli kuliner di Indonesia. Program acara tersebut sangat bagus karena mampu menceritakan pariwisata Indonesia dengan kreatif sehingga menarik banyak mata di seluruh dunia. Oleh sebab itu, interviewer menanyakan, bagaimana pendapat saya tentang hal tersebut. 

Waktu denger tentang isu tersebut, saya langsung kepikiran sama strategi storytelling marketing. Saya kemudian menyampaikan pendapat saya bahwa ahli storytelling di Indonesia itu masih sangat terbatas. Hal itu saya alami juga dalam pekerjaan sehari-hari dimana ketika tim saya ingin menyusun strategi promosi event pariwisata Indonesia dan ingin menggali story behind each event, itu masih cukup sulit. Hal tersebut juga yang mendasari saya untuk melanjutkan studi di bidang Digital Communication, karena saya berniat untuk mempelajari mata kuliah Social Media Storytelling pada saat menempuh S2 nantinya. 

Selain itu, interviewer juga menayakan tentang pengalaman leadership saya dan apa yang ingin saya lakukan 3-5 tahun setelah lulus S2 nanti. Yang paling menarik, pertanyaan terakhir dari interviewer asal Australia. Beliau sepertinya sambil membaca CV saya dan mungkin tertarik dengan hobi saya, yaitu traveling. Sebelumnya memang saya sampaikan di CV kalau selama ini sudah keliling ke sekian provinsi dan kota/kabupaten di Indonesia. Beliau kemudian bertanya, dari semua destinasi yang pernah saya kunjungi, destinasi mana yang jadi favorit saya? Dengan antusias saya menjawab "Labuan Bajo". Setelah itu kami justru asik ngobrolin tentang Labuan Bajo dan saya malah bisa sekalian promosi dan mengajak para interviewers untuk mengunjungi Labuan Bajo suatu saat nanti, hehe..

Sekitar 30 menit berlalu, akhirnya sesi interview saya selesai sudah. Saya mengucapkan terima kasih kepada para interviewers dan tim AAI, kemudian langsung leave Zoom Meeting. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Apa yang saya persiapkan juga gak sia-sia, beberapa pertanyaan dari latihan juga keluar di hari H. Intinya memang ketika kita berusaha mempersiapkan dengan semaksimal mungkin, insyaallah kita bisa lebih siap di hari H nantinya.

Jadi buat temen-temen yang sedang mempersiapkan diri mengikuti JST Academic Interview Beasiswa AAS atau interview untuk jenis beasiswa apapun, tetap semangat yaa.. Semoga sharing dari saya bisa bermanfaat dan menginspirasi teman-teman :))



You Might Also Like

0 komentar

Followers

Twitter