My Wonderful Scholarship Journey with AAS

17.43


Kalo bahas tentang perjuangan dalam mendapatkan beasiswa S2, saya jadi inget gimana dulu perjuangan buat cari kerjaan hingga akhirnya bisa melabuhkan diri di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Bahkan tanpa saya sadari, blog ini ramai pengunjung berkat artikel pengalaman saya apply kerja di Uniqlo dan Kemenparekraf dulu. 
 
Nah, sekarang saya mau lanjut cerita lagi nih, tentang gimana kelanjutan usaha dalam meraih beasiswa S2, khususnya ke luar negeri. Meskipun banyak juga cobaan yang menghadang, hingga keraguan-keraguan yang datang, akhirnya sejak tahun 2019 saya memutuskan untuk makin serius mempersiapkan segala macam keperluan buat apply beasiswa. Mulai dari les IELTS dan test berkali-kali sampe dapet nilai yang ditargetkan, kemudian latihan bikin essay dan coba apply beasiswa yang lagi buka (Chevening, SISGP dan NZAS), walaupun akhirnya ditolak alias gatot (gagal total), tapi tetep sih gak bikin semangat saya mereda. Sempet ngalamin frustasi juga karena bikin essay beasiswa itu ternyata gak mudah fergusoo, hahaha.. Harus dari hati, pake strategi, dan yang pasti udah tau apa yang ingin dicapai melalui beasiswa tersebut.

-&-

Tepat di tanggal 1 Februari 2020, beasiswa Long Term Awards Australia Awards Scholarship (AAS) Intake 2021 dibuka. Tanpa ragu saya langsung bikin aja akun Oasis (aplikasi online beasiswa AAS), isi beberapa data pribadi yang memungkinkan untuk diisi terlebih dahulu, setelah itu baru lanjut mempersiapkan perlengkapan lainnya seperti dokumen-dokumen yang perlu diupload, pilihan jurusan dan kampus, serta yang paling penting yaitu essay

Dari dua aplikasi sebelumnya (tahun 2014 dan 2019), saya berusaha mengevaluasi diri dan akhirnya menemukan bahwa ada beberapa faktor yang bikin saya gak lulus seleksi administrasi beasiswa AAS: 

Yang pertama, saya kurang teliti terkait dokumen-dokumen yang diuplad. Sebagai contoh, masalah naming file, ada beberapa file yang nama filenya saya tulis tidak sesuai dengan perintah di aplikasi online, sehingga gak terbaca oleh sistem. Selain itu saya juga pernah upload file scan ijazah dan transkrip nilai asli, padahal yang diminta adalah file copy legalisir. 

Kesalahan kedua, CV yang saya upload menggunakan foto dan kontennya sangat standar, gak menjual sama sekali. Saya baru sadar waktu Pak Sony liat CV beasiswa AAS saya dan bilang kalau untuk beasiswa Australia itu lebih baik CV nya gak pake foto. Selain itu di dalam sebuah CV, kita juga harus mampu menunjukkan capaian-capaian apa saja yang pernah kita lakukan, gak sekedar mendeskripsikan pekerjaan kita.

Dan yang ketiga, tentu karena isi essay yang belum kuat urgensinya, kenapa saya bener-bener butuh melanjutkan kuliah S2 di Australia, apa yang udah saya lakukan saat ini, apa yang ingin saya pelajari, dan apa yang ingin saya lakukan setelah lulus kuliah, semuanya harus clear dan ada benang merahnya. Saya sadari bahwa dua aplikasi saya sebelumnya emang masih ngambang, belum jelas arahnya kemana, jadi ya wajar kalau kalah saing dari applicant lain yang lebih potensial.

-&-

Oke, karena saya udah tau apa kekurangan saya di aplikasi beasiswa AAS sebelumnya, jadi kali ini saya berusaha buat sedetil mungkin mempersiapkan semuanya. Emang sih khusus beasiswa AAS ini tantangan paling besar justru di seleksi administrasi, karena dokumen yang perlu disiapkan sangat banyak, aplikasi yang perlu diisi juga ada dua (Oasis dan Additional Information Form), jadi harus betul-betul teliti dan mempersiapkan semaksimal mungkin biar lolos administrasi.

Dimulai dari mempersiapkan dokumen yang harus diupload pada aplikasi online nantinya. Berdasarkan pengalaman saya apply beasiswa AAS Intake 2021, ada beberapa dokumen di antaranya : 

1. Birth Certificate (Scan Asli Akta Kelahiran).

2. Proof Citizenship (Scan Asli halaman depan KTP dan/ scan asli halaman depan Passpor).

3. Certified Copies of Bachelor Degree Certificate (Scan Copy Legalisir Ijazah S1, apabila ada yang apply beasiswa S3, bisa disertakan Ijazah S2 nya).

3. Certified Copies of Academic Transcript (Scan Copy Legalisir Transkrip Nilai).

4. Scan English Proficiency Result (Scan Sertifikat Asli IELTS atau TOEFL ITP)

5. Scan dokumen-dokumen pendukung lainnya (Saya upload sertifikat pelatihan dan sertifikat membership organisasi internasional).

Ketentuan pada lampiran dokumen beasiswa AAS Intake 2021 ini mungkin akan menyesuaikan dengan kebijakan terbaru dari AAI. Contoh untuk ijazah dan transkrip nilai, sebelum pandemi diwajibkan upload versi B.Inggris, namun pada tahun 2020 kemarin boleh upload versi B.Indonesianya. 

Untuk mempersiapkan dokumen ini, saya konsultasi ke Bubuw, temen di Kemenparekraf yang pernah lolos beasiswa AAS. Saking takutnya ada yang kelewat, sampe saya minta bantuan Bubuw untuk screenshoot naming file dokumen aplikasi dia, biar bisa saya double check, dari segi naming file udah sama belum, dan daftar dokumen yang diupload udah lengkap belum. Ini juga sih salah satu kunci dalam perjuangan meraih beasiswa, jangan takut tanya ke temen-temen yang udah pernah sukses lolos beasiswa yang mau kita apply. Strategi ini udah saya terapkan sejak saya apply Beasiswa Chevening. Mungkin awalnya malu dan gak enak ganggu, kadang malah baru kenal, tapi udah tanya-tanya. Tapi kalo malu, ntar sesat di jalan, hehe.. Jadi ya coba memberanikan diri aja, bahkan gak jarang justru kenalan baru yang berawal dari tanya-tanya beasiswa, eh malah lanjut jadi temenan beneran.

Langkah selanjutnya, saya mulai bikin CV. Saya belajar banyak dari aplikasi beasiswa SISGP dimana format CV SISGP sangat menekankan apa kontribusi kita di setiap jabatan pekerjaan atau organisasi, dan capaian apa yang udah kita lakukan. Selain itu saya juga ikut kelas CV Beasiswa dari Skill Academy, dengan narasumber Mbak Ayu Kartika Dewi. Di dalam kelas tersebut, Mbak Ayu menekankan bahwa CV melamar pekerjaan dan CV melamar beasiswa itu berbeda. Di CV Beasiswa, kita harus mampu menunjukkan unique selling point, apa yang udah kita lakukan di masa lalu dan sekarang, capaiannya apa aja, dan yang gak kalah penting, jangan lupa cantumkan hobby di akhir CV. Karena selection team itu kan pasti udah capek baca yang serius mulu, jadi kasih deh yang lucu-lucu dan menghibur di akhir CV biar selection team lebih tertarik dengan kita.

Ketika dokumen dan CV udah dipersiapkan, saya kemudian mulai merenung buat bikin essay. Mungkin lebih tepatnya cari inspirasi kali ya, hehe.. Saya harus paham apa yang pengen saya lakukan, salah satunya emang harus luruskan niat selurus-lurusnya. Ambil beasiswa bukan untuk jalan-jalan ke luar negeri, atau kabur dari kantor. Tapi memang niatnya harus dibenerin, buat kasih kontribusi ke organisasi dan masyarakat sekitar. Nanti kalo kita udah lolos beasiswa, kan pasti banyak juga manfaat tambahan yang bisa kita dapatkan, salah satunya jalan-jalan dan cari pengalaman di negeri orang.

-&-

Sejak Covid-19 melanda Indonesia di awal tahun 2020, sesungguhnya fokus saya agak kepecah waktu itu. Karena tiba-tiba kondisi berbeda, di kantor juga jadi lebih banyak meeting koordinasi penanggulangan Covid-19 karena industri pariwisata adalah yang paling terdampak dengan adanya pandemi. Apalagi waktu itu saya in charge di bagian pengembangan event pariwisata yang otomatis berhenti total karena adanya larangan keramaian dalam rangka meminimalisir Covid-19. Konsentrasi kepecah, udah sempet mikir juga, kayaknya bakal pending nih aplikasi beasiswa AAS tahun 2020. Saya malah udah kepikiran, apa apply tahun depan aja? Karena prioritas sedikit berubah juga. Tapi kemudian di sekitar bulan Maret 2020 ada info bahwa deadline submit aplikasi beasiswa AAS Intake 2021 diundur, yang awalnya 30 April 2020 menjadi 30 Juni 2020. 

Hmm, jadi saya mulai mempertimbangkan kembali buat lanjutkan aplikasi. Karena sayang juga udah di tengah jalan masak gak diterusin. Ya udah, akhirnya saya coba lanjut aja, tapi saat itu justru jadi nothing to lose. Pokoknya apply, kalo lolos sampe akhir alhamdulillah banget, tapi kalo belum lolos ya udah gpp, brarti harus semangat coba lagi. 

Terkait pilihan jurusan dan kampus, saya dari awal emang masih agak ragu mau ambil S2 di bidang pariwisata atau mau ambil yang lain. Kalau saya ambil Master of Tourism, rasanya urgensi saya masih kurang kuat. Karena saya kerja di bidang pariwisata di mana saya bisa belajar tentang pariwisata dari kegiatan sehari-hari di kantor. Selain itu saya juga sudah pernah ikut pelatihan baik offline maupun online tentang pariwisata secara umum maupun yang terkait pariwisata berkelanjutan. Jadi kebutuhan untuk self developmentnya juga kurang kuat gitu kalo ambil tourism

Akhirnya saya pakai strategi yang sama seperti ketika saya apply beasiswa Short Term Awards AAS - Sustainable Development Program, yaitu berusaha mencari tantangan atau masalah apa yang dihadapi saat itu, dan gimana caranya solve the problem, salah satunya adalah dengan melanjutkan pendidikan di Australia. Berhubung selama pandemi saya juga ngadepin beberapa tantangan, khususnya terkait minimnya literasi digital para pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia sehingga berdampak kepada rendahnya performa industri parekraf selama Covid-19, saya jadi kepikiran buat ambil kuliah yang berhubungan dengan digital. Saya pengen belajar tentang teknologi digital, tapi dari sudut pandang marketing dan komunikasi, bukan dari sudut pandang teknik. Karena background pendidikan saya juga Management (Marketing Management) dan selama di kantor, saya udah 5 tahun di bidang Marketing Communication, jadi agak susah kalo saya banting setir total ke rumpun ilmu teknik. 

Coba-coba riset, saya kemudian menemukan Master of Digital Communication di University of Sydney (Usyd) dan Queensland University of Technology (QUT) yang bisa memenuhi kebutuhan saya dalam mempelajari teknologi digital, tapi dari sudut pandang budaya, pariwisata, marketing dan pemasaran. Jadi pas banget deh. Setelah yakin dengan pilihan jurusan dan kampus, saya baru meramu essay dan menyesuaikan dengan pengalaman-pengalaman terbaru saya selama pandemi. 

Ketika essay selesai, saya minta bantuan proofread dari beberapa orang, yaitu Bubuw (temen di Kemenparekraf yang pernah lolos AAS), Caca Abhul (temen alumni beasiswa AAS Short Term Awards yang pernah lolos LPDP), dan Pak Sony (dosen pembimbing skripsi saat S1 dulu). Proofread ini penting banget biar kita bisa dapet sudut pandang lain, karena yang baca dan nilai essay kita nanti kan juga belum tentu orang yang bidangnya sama dengan kita. Jadi kita harus bisa menyampaikan di dalam essay dengan runut, to the point, mudah dipahami dan jelas. Biar pembaca bisa paham, arah kita kemana, benang merahnya juga ada.

-&-

Pada hari Selasa, tanggal 23 Juni 2020 sekitar pukul 18.00 WIB, saya mulai submit aplikasi yang sudah lengkap, baik yang di website Oasis maupun Additional Information Form di website Australia Awards Indonesia (AAI). Nantinya setelah kita submit aplikasi, kita akan mendapatkan email-email konfirmasi seperti di bawah ini :

Beasiswa AAS
Email konfirmasi beasiswa AAS dari DFAT yang menginformasikan bahwa aplikasi kita udah disubmit, tapi masih dalam proses upload oleh sistem Oasis.
Beasiswa AAS
Kalau aplikasi di Oasis beasiswa AAS sudah sukses diupload, maka kita akan mendapatkan email seperti ini.

Saya kurang tau aplikasi yang udah berhasil disubmit dan diupload di Oasis apakah masih bisa di edit lagi atau enggak, tapi waktu itu saya juga gak nyoba utak-atik lagi. Sedangkan untuk Additional Information Form, ketika kita sudah sukses submit, seinget saya gak dapet email konfirmasi. Tapi berkas yang sudah disubmit, baik di Oasis maupun di Additional Information Form bisa kita download softcopynya, jaga-jaga kalau nanti kita butuhkan untuk bahan seleksi selanjutnya yaitu interview.

Kelar submit semuanya, sekarang tinggal berdoa dan berdoa, semoga diberikan kemudahan dalam setiap proses seleksi beasiswa AAS Intake 2021 ini. Saat itu angka Covid-19 di Indonesia masih tinggi-tingginya. Kondisi serba gak pasti, termasuk pengumuman seleksi administrasi beasiswa AAS yang awalnya direncanakan Agustus 2020, kemudian banyak berita burung yang mengatakan mundur lagi ke September, Oktober, hingga awal November gak kunjung tiba. Saya yang akhirnya apply dengan nothing to lose, ya makin nothing to lose aja. Sebenernya deg-deg an juga sih, tapi ya udah, ditunggu aja pengumumannya, kalo rejeki juga gak ke mana. Saya sempet gabung ke grup Telegram Beasiswa AAS Intake 2021, dimana isinya adalah para applicant beasiswa AAS juga. Dari situ juga kemudian saya dapet info kalo buat Intake 2021, sepertinya AAI bakal mengurangi kuota penerima beasiswa yang awalnya ditargetkan sekitar 200-300 awardee, menjadi 50 awardee karena kebijakan DFAT di masa pandemi, kemungkinan anggaran pemerintah Australia banyak dialihkan untuk penanggulangan pandemi terlebih dahulu. Beuh, makin dikit aja.

Akhirnya tepat di tanggal 13 November 2020, pas perjalanan pulang dari kantor, saya dapet info dari beberapa temen kalo pengumuman seleksi administrasi beasiswa AAS Intake 2021 udah keluar. Pikir saya, ntar aja deh sampe rumah baru buka email. Padahal udah deg-deg an banget. Sesampainya di rumah, saya agak takut mau buka email, kebayang email-email penolakan yang dulu. Tapi sambil gemeter, saya coba buka email dan hasilnya :

Beasiswa AAS
Email pengumuman hasil seleksi administrasi beasiswa AAS Intake 2021 sekaligus undangan seleksi JST Academic Interview dan English Test.

Alhamdulillaaaaahh, saya langsung sujud syukur sambil nangis. Huaaaa, terima kasih ya Allah, akhirnya saya bisa lolos seleksi administrasi beasiswa AAS setelah dua kali gagal. Hiks, bener-bener terharu deh waktu itu. Gak nyangka banget akhirnya bisa lolos administrasi, setelah perjuangan yang cukup luar biasa.. Saya langsung kabarin suami dan beberapa orang terdekat yang udah kasih support penuh buat saya, dan semuanya ikutan happy denger kabar menggembirakan ini.

Di dalam email tersebut, kita bakal dapet jadwal interview untuk kemudian harus kita respon jika kita confirm dengan jadwal yang telah ditentukan. O iya, karena masih di masa pandemi, jadi interview akan dilaksanakan secara online melalui aplikasi Zoom Meeting. Pada email terpisah, tim IALF Bali mengirimkan jadwal English Test yang juga harus kita konfirmasi. Khusus di tahun 2020, AAS menyebutnya sebagai English Test, karena itu sebenarnya mirip seperti Test IELTS, tapi dilakukan secara online, dengan waktu gak selama Test IELTS sesungguhnya, dan hasilnya tidak bisa dipakai untuk apply kampus. Test ini bisa juga disebut IELTS alike

Saya mendapat jadwal English Test pada tanggal 2 Desember 2020, sedangkan JST Academic Interview pada tanggal 10 Desember 2020. Karena tes kedua kali ini online, tantangannya emang di koneksi internet. Mumpung waktunya masih agak lama, kita bisa mulai mempersiapkan lokasi dan koneksi terbaik biar test interview nanti bisa maksimal. Soalnya pasti deg-deg an juga kalo di tengah-tengah test sinyal internet kita mati. Saya yang awalnya udah optimis bisa test di rumah aja, eh ternyata H-1 listrik di rumah justru mati seharian, termasuk koneksi internet. Ya ampun, langsung panik dong. Akhirnya karena gak mau ambil resiko di hari H, saya langsung cari alternatif lokasi lain buat test.

Gimana pengalaman JST Academic Interview dan English Test?
Wah, tentunya luar biasa.. Hectic iya, takut koneksi tiba-tiba putus iya, tapi alhamdulillah semuanya bisa berjalan dengan lancar. Saya sangat beruntung karena ada keluarga dan sahabat yang selalu jadi support system saya. Tanpa mereka saya gak ngerti lagi, bisa semangat penuh kayak kemarin lagi atau enggak. Pokoknya alhamdulillah.. Mungkin saya akan cerita tentang detil seleksi kedua beasiswa AAS Intake 2021 ini di postingan selanjutnya ya.. Karena pengalaman yang dialami emang berbeda, apalagi test dilakukan secara online, di masa pandemi pula.

Info dari tim AAI, mereka menargetkan pengumuman final nantinya akan dikirim via email sekitar bulan Januari 2021. Alhamdulillah gak terlalu lama dibandingkan jeda pengumuman dari submit aplikasi ke hasil seleksi administrasi, hehe.. Total awardee yang akan dipilih nantinya sekitar 50 orang, jadi yang shortlisted dan ikut seleksi JST Academic Interview serta English Test kemungkinan 2x lipatnya, yaitu 100 orang. Persaingan yang super duper ketat. Saya percaya, yang lolos 100 besar kemarin pun pasti juga orang-orang hebat. Saya bisa termasuk ke dalam 100 orang itu aja udah beruntung banget, udah jadi capaian yang luar biasa buat saya. Makanya untuk hasil akhir, saya bener-bener serahkan ke Allah SWT. Karena saya yakin, Allah SWT yang paling tau apa yang terbaik buat hambanya.

-&- 

Tanggal 12 Januari 2021 jadi hari yang menyenangkan buat saya, itu adalah hari kelahiran saya, dan saya sangat bersyukur masih bisa berkumpul keluarga, dapat ucapan dari sahabat dan orang-orang terdekat, dan yang paling penting, saya juga masih bisa bertahan, alhamdulillah sehat wal afiat di masa-masa pandemi saat ini. Di waktu yang sama, saya jadi keinget sama beasiswa AAS, udah deket-deket pengumuman akhir nih. Meskipun nothing to lose, tapi tetep aja penasaran, hehe.. Kalo diitung-itung, perjalanan beasiswa ini cukup panjang juga ya, dari Februari 2020 hingga Januari 2021 (kurang lebih 1 tahun), lebih lama dari proses seleksi CPNS di Kemenparekraf dulu. Saya berdoa semoga diberikan kemudahan dan kelancaran oleh Allah SWT. Kalopun gak lolos, saya juga udah mempersiapkan mental, brarti harus dilipatgandakan lagi semangatnya buat coba apply di periode selanjutnya. 

Selang dua hari kemudian, yaitu tanggal 14 Januari 2021, saya Work From Home (WFH) dan ada beberapa jadwal meeting online. Saya inget banget, waktu itu jam 2 siang, di tengah-tengah meeting, saya iseng sambil refresh email. Eh, tau-tau ada email muncul dari Longterm Awards yang isinya :

Beasiswa AAS
Hasil seleksi final beasiswa AAS Intake 2021


Bener-bener kaget baca email ini. Alhamdulillaaah, hasil emang gak menghianati usaha ya.. Saya langsung gak konsen meeting, lari ke meja kerja suami yang kebetulan juga lagi WFH, nangis sekenceng-kencengnya terus sujud syukur. Saking gak percayanya dengan email yang saya terima, saya sampe minta suami baca ulang email tersebut untuk memastikan bahwa saya benar-benar lolos sebagai penerima beasiswa Australia Awards Scholarship Intake 2021. Dan ternyata emang beneran lolos, alhamdulillah.. Email ini udah jadi hadiah ulang tahun saya yang luar biasa, terima kasih Ya Rabb..

-&-

Buat temen-temen yang sedang berjuang meraih mimpi melalui beasiswa S2 maupun S3, semangat yaa.. Selalu percayalah bahwa hasil itu tidak akan pernah menghianati usaha. Jika kalian merasa sudah berusaha keras namun masih gagal, anggap aja itu untuk menghabiskan jatah gagal kalian, namun pintu kesuksesan akan semakin dekat dengan kalian. 

Insyaallah, terus semangat!!

You Might Also Like

0 komentar

Followers

Twitter