IOP (International Office and Partnership) is not a work place, but it is either a school or home.

13.04


my moodbuster from IOP


Saturday, June 5th 2015.

Hari ini lagi kepikiran aja sama IOP, mungkin ada rasa rindu. Ya, terlebih lagi banyak hal di Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang ngingetin saya sama IOP. Bahkan memori-memori itu membuat saya semakin yakin, bahwa memang keputusan saya "took an opportunity" buat gabung IOP lebih dari setengah tahun yang lalu adalah keputusan yang tepat. Allah always guide me to the right path.

Impian buat gabung sama IOP sebenarnya udah lama, tapi baru kesampean pertengahan tahun lalu. Awalnya agak ragu buat terima tawaran dari Mbak Ratna karena takut kalau sewaktu-waktu saya harus keluar karena dapat panggilan kerja. Tetapi sekarang saya sadar, bahwa Allah sudah mengaturnya sedemikian indah. Di tengah-tengah kesibukan dan kegaluan saya karena belum dapat pekerjaan yang sesuai keinginan, Mbak Ratna tiba-tiba kirim pesen yang intinya dia lagi butuh anak magang baru di IOP karena Mas Angger (anak magang sebelumnya) bakal ke US selama  beberapa bulan untuk mengikuti program pertukaran pelajar PPAN Jatim. Mbak Ratna ngerasa lebih enak kalau kerja sama orang yang udah pernah diajak kerja bareng, makanya tawaran itu dilayangkan ke saya. FYI saya sudah dua kali jadi volunteer di acara IOP dan kerja sama langsung dengan Mbak Ratna. 

Antara jawab "Ya" atau "Tidak". Tapi kemudian saya mempertimbangkan lebih dalam dan bilang ke Mbak Ratna kalau saya masih dalam proses mencari pekerjaan. Jadi saya terima tawarannya, namun gak janji bisa lama di IOP. Karena memang lagi urgent butuh, akhirnya Mbak Ratna setuju dengan konsekuensi yang saya sampaikan dan hanya berharap paling tidak saya bisa di IOP sampai akhir tahun 2014. Lalu, mulailah saya magang di IOP terhitung per 1 September 2014.

Saya masuk di divisi Kerja Sama Dalam Negeri atau biasa disingkat KSDN (Domestic Partnership) di bawah Mbak Ratna langsung. Rekan kerja di KSDN saat itu adalah Mas Apri dan Mbak Vidi. Awal kerja, masih disuruh belajar banyak hal seperti belajar fotokopi, belajar nge-fax, scan dokumen MoU dan MoA, belajar pengarsipan dokumen, belajar menyetempel dokumen, mengirim dokumen kantor via kurir (FedEx atau JNE), mengantar dokumen MoU dan MoA ke Bidang Hukum Rektorat Unair, Sekeretaris Universitas (SU), Wakil Rektor, bahkan ke Rektor juga, dan berhubungan dengan boga atau bagian sarana jika akan mengadakan suatu acara. 

Banyak yang bilang, magang itu gak enak, karena kita bakal lebih sering dikasih tugas yang gak sesuai dengan latar belakang pendidikan kita. Coba aja bayangin, kita sekolah tinggi-tinggi, dapet gelar S1, tapi ujung-ujungnya disuruh fotokopi atau jadi kurir surat. Well, buat orang yang gak berpikiran luas, mungkin akan merasa seperti itu kali ya. Tapi yang paling saya inget adalah pesan dari Mbak Citra (admin KSLN IOP), bahwa pengalaman magang di IOP itu akan menjadi bekal persiapan kita untuk memasuki dunia kerja yang sesungguhnya. Kalau di IOP, kita melakukan hal yang salah, masih bakal diingatkan. Tapi jangan harap hal itu terjadi di dunia kerja yang sesungguhnya. Belajar semua hal dari bawah, bahkan mulai belajar dari bagaimana cara mengoperasikan mesin fotokopi itu penting, agar kita bisa menghargai setiap pekerjaan yang diberikan kepada kita, menjadikan kita rendah hati, tidak sombong, dan mau berusaha keras. Toh kalau kita bisa mengoperasikan alat kantor sendiri, akan lebih efektif kan, apalagi saat tidak ada orang yang bisa kita minta tolongi. 

Tanpa saya sadari, semua hal itu saya alami sendiri, secara langsung, di tempat kerja saya yang baru, di dunia kerja yang sesungguhnya, yaitu Kemepar. Sama halnya di IOP, saat awal masuk Kemenpar pun kita akan lebih sering disuruh membantu pekerjaan yang sifatnya pengenalan seperti belajar fotokopi atau jadi kurir surat. Saya pribadi, santai banget dalam ngadepin kondisi-kondisi awal seperti itu, karena saya sudah pernah ngalamin hal serupa di IOP. Namun terkadang ada saja beberapa kawan yang merasa bahwa menyuruh melakukan pekerjaan seperti itu sama halnya merendahkan mereka. Ya terkadang pengen juga membuka pikiran mereka akan hal seperti itu, tetapi karakter setiap orang kan beda-beda. 

Selain itu juga tentang kerasnya birokrasi Indonesia. Saya sudah mulai memahami betapa ribetnya, ruwet, dan lamanya birokrasi di Indonesia sejak saya terjun langsung mencari dana untuk lomba yang saya ikuti bersama tim saya di bangku kuliah. Mulai dari pembuatan proposal pengajuan bantuan dana yang bisa revisi beberapa kali karena kesalahan konten, mencari tanda tangan para pejabat mulai dari Ketua HIMA Manajemen Unair, Ketua BEM FEB Unair, hingga Kepala Departemen Manajemen, Bagian Keuangan Fakultas dan Wakil Dekan atau bahkan Dekan. Itu baru tingkat Fakultas lho, tingkat Universitas jauh lebih ribet lagi. Dulu saat saya mengurus proposal dana tersebut, pada awalnya sebel juga, kenapa prosesnya bisa seribet ini, tanda tangan pun harus urut dari pejabat paling bawah, kalau gak urut gak boleh. Belum lagi jika kita harus membuat janji dengan para pejabat, namun setelah ditunggu berjam-jam ternyata beliaunya sibuk tidak bisa ditemui. Saat sudah ditemui pun kita masih harus meyakinkan beliau untuk menyetujui proposal. Jika kami beruntung, proposal langsung di Acc, kalau enggak ya wassalam harus rubah proposal lagi. Meski sudah di Acc pun juga kadang dana baru bisa cair beberapa hari kemudian, bahkan gak jarang dana baru bisa cair justru saat kami sudah selesai lomba. Itulah birokrasi Indonesia. 

Di IOP saya juga mengalami hal tersebut, terutama saat saya harus mengantar dokumen MoU atau MoA untuk ditanda tangani para pejabat Rektorat. Jika ada kesalahan sedikit, saya harus balik lagi ke Mbak Ratna agar dokumen bisa direvisi. Memang sistem birokrasi kita itu ribet, lama, dan tanda tangan pejabat harus urut dari bawah sampai atas. Sistem seperti inilah yang kadang dikeluhkan juga oleh rekan-rekan CPNS Kemenpar. Saya maklum, mereka mayoritas sudah punya pengalaman kerja di swasta, dimana sistem birokrasinya saya yakin gak akan seribet di instansi pemerintahan. Makanya mereka shock berat waktu ada yang sharing tentang betapa gak efektifnya birokrasi di Indonesia. But, we live in Indonesia, so terima aja. Saya dulu juga pernah kok ngeluh seperti mereka. Tapi lama-lama saya sadar juga, mengeluh itu gak membuat keadaan berubah, gak menghasilkan solusi sama sekali. Jadi satu-satunya cara menghadapinya ya jalani aja, sabar, ikhlas. Emang sih, gak bisa saya pungkiri, justru dari proses birokrasi yang ribet tersebut, saya bisa melatih kesabaran dan keikhlasan saya dalam menghadapi suatu kondisi tertentu. Untuk saat itu cuman itu yang bisa kita lakukan. Tapi semoga aja, dengan ikut nyemplung di dunia pemerintahan, suatu saat nanti kita bisa membuat sistem birokrasi yang lebih baik dan lebih efektif lagi. 

Oke deh, balik lagi ke IOP, intinya saya sangat bersyukur bisa bergabung dengan IOP meski hanya sebentar. Karena buat saya, IOP itu bukan tempat kerja, tapi udah kayak playground saya, tempat saya bermain dan belajar, sekaligus jadi rumah kedua saya. Semua pesan-pesan anggota keluarga IOP itu gak pernah saya lupain. Saya belajar untuk jadi pribadi yang lebih baik lagi, pribadi yang rendah hati, cuman di IOP. Saya belajar jadi orang yang ringan tangan, suka membantu orang lain yang membutuhkan, jadi orang yang lebih sensitif dan peka dengan sekitar, juga cuman dari IOP.

Allah memang baik, super baik dan super pengertian. Awal-awal abis lulus, saya apply ke beberapa perusahaan impian, tapi akhirnya ditolak. Awal September 2014, saat saya baru gabung IOP, saya sudah sempat diterima di salah satu Marketing Agency favorit saya, tapi karena ijin orang tua gak turun akhirnya dengan berat hati saya tolak. Andaikan saya ambil juga saat itu, mungkin saya gak bakal bisa dapet banyak ilmu dan pengalaman dari IOP. Itulah takdir yang Allah lukiskan untuk saya. Saya bisa menjadi anggota keluarga IOP, meski hanya beberapa bulan, tapi pengalaman itu bisa jadi bekal berharga untuk saya. Sebab pada akhirnya saya mendapat pekerjaan yang gak jauh-jauh dari dunia pemerintah. Ya saya telah diterima menjadi CPNS 2014 Kementerian Pariwisata per 13 Februari 2015. 



Sekitar akhir April 2015, saya resmi resign dari IOP. Banyak kejutan bahkan hadiah dari keluarga IOP yang saya terima sebagai bentuk farewell untuk saya. Jujur, terharu banget rasanya, makin berat ninggalin keluarga ini, Sekali lagi, IOP memang bukan sebuah tempat kerja bagi saya, but it is either a school or home, dimana saya bisa belajar banyak hal dan bisa merasakan kehangatan  keluarga dari para anggotanya.


You Might Also Like

3 komentar

  1. Selamat siang kak, saya mahasiswa baru alih jenis di unair, mau tanya mengenai magang di IOP, untuk magang disana apakah harus melalui rekomendasi orang dalam? Atau bisa langsung apply ke IOPnya? Jujur saya sangat tertarik untuk magang di IOP. Terima kasih kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau berkenan kak dibalas ke email saya herniohoetomo@gmail.com , terima kasih ^^

      Hapus
    2. Dear Hernio,

      Sudah saya feedback by email ya :)


      Thank you.

      Hapus

Follow Me On Facebook