Imagine Your Korea (2)

15.01


E : "Diana, ada tiket murah nih, ayo ngebolang lagi."
D : "Kemana mbak?"
E : "Pengen ke Jepang tapi belum siap sama biaya hidupnya yang mahal"
D : "Ya udah kita ke Korea aja. Tapi mau ngapain ya kita ke sana?"
E : "Aku bukan penggemar Korea sih. Yang penting kita udah ke sana, duduk-duduk santai doang juga gak apa-apa."
D : "Oke, kita pesen tiketnya ya."

-&-

Well, kadang hal-hal random itu bisa muncul kapan dan dimana aja. Gak ada rencana gak ada kepengenan, tau-tau ngambil keputusan dalam waktu singkat, why not? As long as it is a good thing to do

Hal yang pertama kali kita lakukan setelah tercetus, "Okay, we choose Seoul as our next travel destination." adalah mempersiapkan itinerary. This is my favourite part so far.  Buat saya bikin itinerary itu ada sensasinya tersendiri, haha.. Bahkan beerapa temen sempet heran, kok segitu semangatnya sih saya kalau lagi bikin itinerary. Dasarnya punya passion di bidang travelling, saya suka banget cari informasi tentang destinasi-destinasi hits masa kini, ngatur waktu perjalanan biar efektif, pilih akomodasi yang nyaman tapi juga instagrammable, cari opsi tempat makan dan siasatin waktu biar kita tetep enjoy jalan-jalan tapi gak lupa ibadah juga.

Jadi, sebelum kita tentukan where to go, kita harus tau dulu nih where to stay. Buat mempermudah dalam pembuatan itinerary. Saya pribadi lebih suka stay di hostel daripada di hotel. Why? Karena kalo di hostel kita bisa lebih gampang interaksi sama orang lain yang nginep juga di hostel itu dan bisa tanya-tanya sama reseponis misal kita butuh bantuan mereka buat tau informasi terkait destinasi atau transportasi. Bahan promosi kayak leaflet atau peta destinasi juga lebih banyak tersedia di hostel daripada hotel. Untuk di Seoul, saya memutuskan menginap di K-Guesthouse Insadong dengan memesan satu kamar isi 2 bed dan kamar mandi dalam. Waktu itu pesen lewat aplikasi booking.com dan dapet diskon dengan total biaya per orang untuk 5 hari 4 malam sekitar 1,2jt rupiah.

Setelah kita tau bakal stay di Insadong, barulah saya mulai menyusun itinerary perjalanan. Berhubung kita ambil flight malam (jam 23.00 dari Jakarta, sampai Seoul jam 10.00), rencana perjalanan hari pertama dan kedua fokus pada perjalanan dan destinasi di sekitar hostel. Selama proses pembuatan itinerary, saya sangat terbantu oleh situs visitkorea.or.kr. Ini dia awal mula saya mulai jatuh cinta sama Korea Selatan. Situs pariwisata yang dikelola oleh Korea Tourism Organization ini punya info lengkap tentang destinasi-destinasi di Korea Selatan. Misal nih saya cari destinasi di deket Insadong, langsung muncul juga rekomedasi destinasi di sekitar Insadong, what we can eat there, where to shop, where to dine, bahkan info tentang destinasi-destinasi yang jadi lokasi shooting drama korea pun juga ada. Jadi sekali buka situs, udah ngebantu banget buat nyusun itinerary selama 5 hari 4 malam.

Poin kedua yang bikin saya enjoy selama di Korea Selatan adalah the food. Sebelum berangkat ke sana sebenernya agak galau karena bingung mau makan apa di sana, secara saya anaknya gak suka coba-coba makanan asing. Ya kalau terpaksa paling juga cuman makan roti sama susu, kalau udah kangen nasi tingal cap cus ke KFC buat beli nasi ayam goyeng, hehe.. Tapii, ekspektasi saya tentang makanan Korea salah. Waktu itu saya udah keburu kelaperan dan kedinginan (saya ke sana waktu musim semi dimana rata-rata suhu udara 16'C). Iseng masuk salah satu restoran di Insadong, saya dan partner traveling saya (Mbak Erile) pesen menu Korea Spicy Soft Tofu Stew and rice. Pikiran kita waktu itu cuman pengen makan nasi plus cari yang anget-anget, maka terpilihlah menu itu dan ternyata rasanya enaak banget. Saya baru paham kalau orang Korea itu suka makan nasi, sayur dan seafood. Bahkan harga daging di sana lebih mahal daripada harga seafood. It really helps us as a moeslem. Kalau lagi urgent dan belum nemu restoran halal, akhirnya kami mampir aja ke restoran Korea lalu pesen bimbimbap lauk seafood, udah deh.

Korea telah masuk ke dalam 15 kelompok negara dengan ekonomi terbesar di dunia, namun itu tidak otomatis menggerus budaya lokal masyarakat Korea. Saya sangat kagum pada modernitas yang mampu hidup berdampingan dengan tradisi lokal di Korea Selatan. Di antara gedung-gedung yang tinggi, masih ada bangunan bekas kerajaan yag terawat dengan baik. Di antara pakaian super stylist masa kini, masih banyak juga persewaan hanbok (pakaian traditional Korea Selatan) yang tentunya jadi magnet tersendiri buat para wisatawan.O iya, ada sedikit tips buat kalian, kalau pengen mengunjungi beberapa destinasi di Seoul dengan gratis, terutama yang berupa kerajaan-kerajaan gitu, cukup sewa Hanbok aja seharga sekitar 12.000 - 15.000 KRW atau Rp 150.000 - 200.000 per dua jam. Masuk ke lokasi pake Hanbok bisa bikin kalian bebas dari entry fee, lumayan kan :D.

Dua hal lagi yang terkenal dari Korea Selatan adalah produk skin care dan drama korea. FYI saya bukan penggemar keduanya. Skin care cuman dibeli kalau lagi pengen, tapi entah kenapa waktu pertama sampai Seoul liat store skin care berjejer di pinggir jalan macem indomaret alfamart, kok bikin mupeng juga ya, hahaha. Beruntungnya hostel saya terletak di Insadong, salah satu pusat tradisional sekaligus wisata belanja. Jadi jadwal pertama dan terakhir tiap hari selalu mampir ke store skin care, bahkan Mbak Erile malah sempet buka jastip saking dia excited liat harga skin care cuman 1/3 dari harga di Indonesia. Sedangkan saya? Sibuk beli skin care buat acara seserahan menjelang hari pernikahan XD.

Beda lagi tentang drama Korea, saya pun gak terlalu addict kok nonton drakor, ya kalau ada drakor yang lagi happening plus saya kenal aktor aktris pemainnya, baru deh saya nonton. Jadi waktu kita berkunjung ke Hangang Park lalu nemuin daun pohon Maple ala Goblin, Mbak Erile dengan girangnya fotoin daun itu dan bawa pulang. Sedangkan saya? Jadi tukang foto Mbak Erile aja udah cukup. Saya gak paham daun pohon Maple itu apa, baru ngeh waktu nonton Goblin sepulang dari Korea.

Tapi kalau bicara drama, saya rasa the drama is in the real life. Menurut saya justru drakor itu refeksi kehidupan sehari-hari di Korea. Why?? Karena saya liat banyak adegan drama di sekitar saya, hahaha.. Lagi jalan di trotoar, di stasiun, nemuin eonni oppa dengan dadanan kece lagi gandengan mesra. Dijamin super baper deh, jadi pengen kodein pasangan buat ke sana kan jadinya. Yang lebih drama lagi saya sempet nemuin kerumunan orang-orang di stasiun bawah tanah yang ternyata lagi pada heboh karena ada bapak-bapak tua jatuh dari tangga dengan kondisi kepala berdarah. Eh, kurang tau juga itu bapak-bapak jatuh, kepleset atau kenapa. Liat kejadian itu jadi inget drakor tentang kasus-kasus pembunuhan gitu, kan serem ya.. Belum lagi pas naik kereta ada drama juga anak-anak pingsan terus sang ibu teriak bilang "ottoke, ottoke". Saya kan jadi ikut bingung. Untung penumpang lain dengan sigap langsung bantu pinggiran anak yang pingsan. It is a real drama in the real life.

Korea buat saya adalah negara yang mengagumkan. Kalau awalnya I have no feeling with this country, sekarang beda lagi. Setelah coba menginjakkan kaki di negeri ginseng ini, saya mampu menyimpulkan bahwa saya tidak salah memilih destinasi untuk belajar. Ada beberapa poin yg bikin saya gak kaget kalau negara ini jadi negara yang mulai diperhitungkan di dunia internasional :
1. Korea Selatan mampu menerapkan Pentahelix ABGCM dengan maksimal.
2. Korea Selatan bisa menyelaraskan budaya tradisional dengan modernitas.
3. Korea Selatan sangat mengunggulkan produk dalam negeri, salah satunya dengan membuat kebijakan harga produk impor lebih mahal dibandingkan produk dalam negeri.
4. Korea Selatan mampu menangkap potensi promosi pariwisata melalui industri kreatif (kaitannya dengan Pentahelix ABGCM). Contohnya Nami Island yg terkenal lewat drama Winter Sonata. Padahal waktu ke sana rasanya udah perpaduan antara mau ke Danau Toba sama Sarangan, Magetan, cuman lebih tertata rapi dan bersih aja 🙈😁 Satu lagi yang bikin saya kagum ketika saya lihat situs resmi pariwisata Korea Selatan juga memuat info tentang lokasi shooting drama Korea (macem Goblin) yang bisa menjadi destinasi pariwisata unggulan mereka juga.
5. Korea Selatan punya daya saing SDM yang kuat. Dari segi pariwisata, SDMnya udah siap menyambut wisatawan. Bahkan sopir bis biasa aja bisa diajak omong B.Inggris. 


So, how do you imagine your Korea?


You Might Also Like

0 komentar

Follow Me On Facebook